ini tentang perbuatan yang basi banget
Ketika kelas satu, aku pernah lho nyontek. Pas itu remidi matematika, dan aku ngelirik jawaban anak yang ada di sebelahku. Namanya juga anak kecil, gak mikir kalau anak yang aku contek itu hampir selalu gagal dalam matematika. Ealah, ternyata temanku yang itu lolos remidi, dan aku nggak. Jadilah aku remidi sendirian. Sakitnya tuh di sini. Nyontek aja gagal 😭
Sejak saat itu aku menyesal sudah nyontek. Kenapa? Karena aku sadar nyontek itu ga ada manfaatnya. Yang ada cuma tambah gagal deh. Sejak saat itu, kuakui terkadang aku menjadi terlalu anti dalam kegiatan contek-mencontek. Ada teman yang ketahuan nanya atau ngelirik? Langsung aku damprat habis-habisan. Aku ingin semua orang menerapkan standar yang sama denganku, walaupun aku sadar bahwa 'penyakit' mereka tidak bisa disembuhkan. Sekali hobi mencontek, tidak bisa kembali menjadi jujur lagi. Kita akan merasa pesimis akan jawaban kita jika belum 'dicocokkan' dengan jawaban teman.
Jadi, yang biasa kulakukan biar nggak jengkel sendiri? Jangan mencontek. Apabila seluruh kelas berlaku tidak jujur, dan hanya kalian yang jujur, jangan tegur mereka. Hanya ingatkan sekali-sekali saja, walaupun mengingatkan pun biasanya tidak berguna, seperti yang kujelaskan di paragraf sebelumnya :v. Hanya abaikan saja, namun ingatlah untuk JANGAN sekali-sekali mencoba nyontek, sesedikit apapun. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, bukan? Itu sama saja dengan menurunkan standar kalian.
Sekarang, mengapa tidak membiarkan saja diri kita 'terjangkiti penyakit' nyontek? Karena, nyontek hanya kepuasan sesaat. Mungkin kita merasa menang karena mendapatkan nilai bagus, tapi apakah kita mendapat ilmunya?
Jadi, yang biasa kulakukan biar nggak jengkel sendiri? Jangan mencontek. Apabila seluruh kelas berlaku tidak jujur, dan hanya kalian yang jujur, jangan tegur mereka. Hanya ingatkan sekali-sekali saja, walaupun mengingatkan pun biasanya tidak berguna, seperti yang kujelaskan di paragraf sebelumnya :v. Hanya abaikan saja, namun ingatlah untuk JANGAN sekali-sekali mencoba nyontek, sesedikit apapun. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, bukan? Itu sama saja dengan menurunkan standar kalian.
Sekarang, mengapa tidak membiarkan saja diri kita 'terjangkiti penyakit' nyontek? Karena, nyontek hanya kepuasan sesaat. Mungkin kita merasa menang karena mendapatkan nilai bagus, tapi apakah kita mendapat ilmunya?
Kalian nilainya jelek, selalu kalah dengan nilai anak-anak yang tukang contek? Nah, kalau itu mah, tingkatkan belajarmu, kurangi hal-hal yang mengganggu konsentrasi, seperti nonton sinetron Boy (nggak tau sih ini sinetron benernya ngapain, cuma tau yang main Setipen Wiliyem, boleh dipanggil Iyem?) di tipi, main COC di hape, cetingan ama gebetan, atau bikin-bikin pideyoh yutup. Gampang, kan? Pasti gampang lah, kalau kalian serius.
ALASAN MENGAPA JANGAN MENCONTEK:
- Mencontek itu perbuatan yang bodoh dan hanya dilakukan orang yang putus asa
- Emangnya kalian mau, orangtua kalian menyekolahkan kalian agar anaknya pintar, tapi jadinya 'pintar' nyontek?
- Sama saja dengan menipu diri kalian sendiri
- Terbiasa 'korupsi' hingga ke masa depan
- Nggak jadi pinter
- Entar mampus kalo ketauan guru atau pengawas ujian (kalau ini penting banget sih
Sementara ini, banyak yang merasa bangga jika berhasil nyontek tanpa ketauan ato gurunya mengabaikan. Bagaimana kalau sudut pandangnya kita ganti? Banggalah kalau ada kesempatan nyontek, tapi kita berhasil menaklukkan godaan mencontek. Nggak takut dosa kalo nyontek? Oke, tapi takutlah kalau ketauan. Bayangkan malunya. Bayangkan kalau tidak ketauan, bayangkan nyontek itu jadi modalmu untuk jadi berbuat curang hingga besok dewasa.
Nah, sekarang udah ngerti kan? 😁
Komentar
Posting Komentar